Rabu, 16 Mei 2012

Menghadapi Anak Didik Baru dan Pemalu


Menghadapi  Anak  Didik  Baru  dan Pemalu

Setiap  tahun,  kita  pasti  akan mendapati  anak-anak didik  baru. Diantara  anak didik  tersebut,  pasti ada  yang  pemberani,  dan ada  yang pemalu. Ada anak pemalu  yang  tidak  mau  masuk  kelas  kalau  tidak  ditemeni  orang  tuanya,  dan ada  pula anak  pemalu  yang  tidak  mau  ngomong  di dalam kelas dan tidak  mau  aktif   di  dalam  kelas.  Bagaimana  menghadapi  anak  seperti  ini? Bagaimana  menumbuhkan sikap  percaya  diri  kepada  anak sehingga  mau  menjadi   anak  pemberani  seperti  teman-temannya yang  lain?

 Untuk membahas   hal  ini,  saya akan memberikan contoh  salah  satu   kasus  yang pernah  dihadapi oleh   Bunda  Annisa Kurniati.   Beliau  adalah  salah  satu  dosen di Universitas Karimun, Bunda Annisa pernah   menghadapi  kasus dimana  salah  satu siswa  barunya tidak  mau  masuk  kelas  bila  tidak  ada  Mama di  sampingnya. Dalam menghadapi  kasus  ini,  Bunda Annisa  memiliki  prinsip  untuk  tidak  memperbolehkan  anak  ditemeni  orang tua  di dalam kelas,  dengan alasan agar  anak  bisa  belajar  mandiri.  Selain itu,  Bunda  Annisa  juga  tidak  ingin melukai  perasaan sang anak,  yang  akan mengakibatkan perasaan sakit  hati atau  dendam  di  dalam  diri  sang  anak.  Maka  Bunda Annisa  pun memiliki  trik  tersendiri  untuk bisa  “memisahkan” sang  Mama dengan anak  didiknya.   Trik tersebut  memang sangat  membutuhkan kesabaran dan ketekunan,  karena  prosesnya tidaklah  instan  namun cenderung  “perlahan-lahan”. Yang dilakukan Bunda Annisa adalah dengan meminta  orang tua  menemani  anak  didik masuk  ke dalam  kelas  dan  duduk  di samping sang anak pada hari  pertama.  Tujuannya adalah agar anak bisa  menyesuaikan diri  terlebih   dahulu  dengan keadaan di  kelas,  teman-teman baru,  dan tentu  saja guru-guru  baru. Pada hari  kedua, orang  tua  “jaga jarak”  dengan sang  anak.   Dari  hari  ke hari,  jarak  anak dengan orang tua semakin menjaduh. Hal ini dilakukan agar  anak bisa  lebih akrab dengan teman-temannya dan bisa lebih mandiri  dalam melakukan sesuatu, tanpa melukai perasaan sang anak. Beberapa  hari  kemudian,  orang   tua  berada  di luar  namun  berposisi  di  dekat  jendela kelas,  sehingga  anak  masih  tetap  bisa  melihat  sang Mama yang setia  menunggunya.  Dalam  proses  menjauh tersebut, sesekali  anak  pasti akan menghadap  ke belakang  dan berusaha  mencari  keberadaan sang  Mama. Dan saat anak  didik  menatap  sang  Mama,  sebaiknya  orang tua memuji  sang  anak  atau  cukup memberikan “jempol” kepada sang  anak. Oh  iya,  Bunda Annisa juga memberikan semacam puisi  kepada anak didiknya  yang masih  baru, yang isinya  adalah  doa  dan motivasi  kepada anak  untuk tidak  terlalu “bergantung “ pada  sang  Mama. Puisinya demikian
:
” Bunda selalu ada menemaniku walau berada dirumah tak disampingku bunda menemani dengan do'anya dan aku aman dan nyaman bersama guru dan kawan-kawanku karena merekapun sayang padaku.”
Nah… Setelah sang anak sudah terbiasa duduk  sendiri,  barulah  peraturan bahwa orang tua hanya  boleh  menunggu di ruang  tunggu  diberlakukan.
 Terkadang  mungkin kita akan menghadapi orang tua yang  kurang  memahami pentingnya belajar di kelas  tanpa ditemani  orang tua. Orang tua tersebut biasanya  berusaha mencurahkan kasih sayang kepada anaknya, dan tidak mau anaknya bersedih saat  ditinggalkan di dalam kelas. Hal  tersebut sangat tidak disarankan di  dalam Pendidikan Anak  Usia Dini.  Karena walaubagaimana pun anak harus dilatih untuk bisa hidup  mandiri. Dan pelajaran tersebut  akan sangat  baik bila diterapkan di sekolah. Untuk  mencegah  hal tersebut,  komunikasi  antara orang tua dan guru sangat  penting.  Bila perlu, di awal pelajaran,  sekolah  mengadakan seminar  yang diperuntukkan bagi  orang tua dan guru. Seminar  tersebut  biasanya diadakan  di awal  tahun ajaran dan berisikan pengenalan sekolah.  Pada seminar  tersebut  akan di bahas  segala  sesuatu yang berhubungan dengan sekolah, salah satunya peraturan sekolah yang berisi  larangan bagi  orang tua masuk  ke dalam kelas  saat  kegiatan  belajar dan  mengajar  berlangsung. Beberapa  hal lain yang perlu  saya  tambahkan di dalam proses memisahkan anak   didik  dari  orang tua yang dikemukakan oleh Bunda Annisa  adalah:
  1. Mengetahui  penyebabnya
Untuk mengetahui penyebab anak menjadi  takut dan malu,adalah dengan mengajak anak untuk  “curhat”. Penyebab  utama anak  pemalu  di dalam kelas biasanya ada dua. Yaitu karena memang  anaknya memiliki sifat  pemalu, dan bisa juga karena“tidak kerasan”. Anak menjadi tidak  kerasan biasanya  terjadi karena mereka dipaksa oleh orang tua, dan orang  tua kurang  bisa memberikan informasi kepada anak tentang  betapa menyenangkannya  suasana di kelas. Hal ini menyebabkan anak berpikiran yang “tidak-tidak”. Bila  menghadapi  anak yang  memang pemalu,  biasanya  penangannya  lebih lama,  karena hal ini lebih bersifat  membangun karakter anak, namun bila hal ini disebabkan kesalahan persepsi anak tentang  suasana kelas yang sebenarnya,  yang  perlu  kita tekankan adalah lebih  pada pengubahan persepsi  anak. Walaupun demikian, cara penangannya  hampir sama, namun jangka waktu “penyembuhannya”  tentu  akan lebih  lama dan lebih  intens anak yang  berkarakter pemalu.
  1. Pujian
Pujian ini akan sangat penting untuk memotivasi anak. Dengan pujian anak akan menjadi  lebih berani mengekpresikan diri. Selain itu dengan pujian kita  telah  mengajarkan anak untuk selalu berpikiran positif.
  1. Materi  Pelajaran Menarik dan Mengasah  Kemampuan Sosial
Materi pelajaran yang menarik, akan membuat  anak menjadi  betah berada di dalam kelas. Sebelum mereka sampai ke sekolah, mungkin bayangan mereka adalah mereka akan berada di tempat yang serius dan diajar  oleh guru yang “galak”. Bila kita mengajarkan mereka materi  yang menarik dan menyenangkan,  segala pemiikiran negatif  mereka tentang  suasana kelas bisa kita ubah menjadi  segala sesuatu  yang positif dan fun. Dan akan lebih baik lagi bila materi yang diajarkan adalah materi pelajaran yang berhubungan dengan persahabatan dan keakraban, agar antar anak didik bisa saling mengenal satu  sama lain.  Biasanya materi pelajaran ini bersifat  aktivitas. Di dalam aktivitas ini kita bisa “menjodohkan” mereka satu sama lainnya. Maksudnya adalah membuat  mereka akrab satu  sama lain. Misalnya, meminta anak menggambar dengan cara satu kertas berdua, menyanyi  di depan kelas berdua-dua, menari di depan kelas berdua-dua, dan masih banyak aktivitas lain  yang bisa kita pilih.

4. Nasihat tentang kemandirian
Nasihat  ini tidak perlu kita tujukan kepada seoarang anak, misalnya hanya kepada anak yang pemalu. Nasihat ini kita tujukan pada semua anak  yang  berada di dalam kelas, agar anak-anak yang  pemalu tidak merasa dihakimi. Nasihat bisa berupa puisi, seperti yang  dibuat oleh  Bunda Annisa. Atau bisa juga dengan mengatakan sesuatu  di  dalam kelas yang bersifat  menasihati anak akan pentingnya bersikap mandiri. Atau bisa juga dengan menyanyikan lagu ANAK MANDIRI. 

5. Mengajarkan orang tua  cara memotivasi  anak.
Hal ini sangat  penting dilakukan karena anak menjadi  pemalu atau terkesan takut, disebabkan oleh kurangnya  motivasi  dari  orang tua. Hal ini biasanya disebabkan karena orang tua yang terlalu  sibuk, sehingga  hanya  memasrahkan masalah pendidikan anak  kepada guru. Padahal pendidikan anak  tidak hanya  berhubungan dengan guru, namun juga jalinan komunikasi  yang  baik antara guru dan orang tua. Dan tentu saja semuanya  harus dilakukan demi kebaikan sang  anak. Hal terpenting yang harus  dilakukan guru  kepada orang tua adalah denganmengajarkan orang  tua  cara memotivasi  anak. Misalnya dengan membuat  anak-anak  gembira sebelum berangkat sekolah (tidak membuat  anak sedih, takut, dan tertekan), memberikan banyak pujian kepada anak, dan  masih  banyak kata-kata motivasi yang  lain yang  menyesuaikan dengan karakter sang  anak. Hal  ini sangat  penting untuk menghindari masalah “rumah” yang terbawa ke sekolah. Misalnya ada anak  yang  menjadi  pemalu  di kelas, karena habis dimarahin mamanya. Tentu hal  ini akan lebih sulit diatasi tanpa adanya komunikasi  yang  baik antara orang tua dan guru.
Sumber: Karya Kak Zepe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar